Telur sudah lama dikenal sebagai opsi protein hewani yang praktis, ekonomis, dan amat mudah disajikan. Sebagian orang menggemari telur rebus setengah matang lantaran teksturnya yang lumer dan lembut di lidah. Namun, tak sedikit pula yang konsisten memilih telur matang sempurna karena dinilai lebih steril dan aman dikonsumsi.

Lantas, apakah tingkat kematangan telur setengah matang benar-benar menyimpan nutrisi yang lebih tinggi dibanding telur yang dimasak matang penuh? Berdasarkan ulasan ilmiah, perbandingannya ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Ada anggapan populer bahwa merebus telur hingga matang sempurna dapat merusak mayoritas zat gizi di dalamnya. Padahal secara realitas, perbedaan kadar nutrisinya terbilang sangat tipis.

1. Keduanya Memiliki Kadar Nutrisi yang Hampir Mirip

Telur tetaplah pasokan protein berkualitas tinggi yang melengkapi seluruh dari sembilan jenis asam amino esensial. Selain itu, bahan pangan ini kaya akan vitamin A, D, B12, kolin, selenium, serta pasangan antioksidan lutein dan zeaxanthin yang bermanfaat untuk kesehatan mata.

Meski begitu, suhu panas saat memasak dapat memengaruhi beberapa nutrisi yang peka terhadap temperatur tingi, khususnya lutein dan zeaxanthin. Studi dalam American Journal of Clinical Nutrition (2023) mengungkapkan bahwa telur setengah matang mampu mempertahankan kandungan lutein dan zeaxanthin sekitar 30% lebih tinggi dibanding telur yang direbus matang penuh. Kedua zat antioksidan ini sangat penting untuk melindungi retina mata dari bahaya radikal bebas dan memelihara fungsi penglihatan.

2. Protein pada Telur Matang Lebih Optimal Diserap Tubuh

Kendati nutrisinya terhitung setara, protein dari telur rebus matang ternyata jauh lebih gampang dicerna dan diserap oleh sistem pencernaan.

Riset yang dimuat dalam The Journal of Nutrition mengindikasikan bahwa tubuh mampu menyerap hingga 90 persen kadar protein dari telur yang dimasak matang. Angka ini jauh melampaui tingkat penyerapan telur mentah yang hanya berkisar 50 persen. Proses pemanasan berperan mengubah struktur protein (denaturasi), sehingga memudahkan kerja enzim-enzim pencernaan dalam mengurainya.

3. Faktor Keamanan dari Bakteri Salmonella

Titik pembeda paling nyata dari telur setengah matang versus matang penuh sebenarnya ada pada tingkat keamanan konsumsinya.

Telur yang belum dimasak sempurna masih berpeluang menjadi ‘sarang’ bakteri Salmonella, terlebih jika cara simpan dan olahnya tidak bersih. Jika terkena infeksi ini, Anda bisa mengalami diare, mual, muntah, demam, hingga sakit perut hebat.

Risiko ini memang bisa ditekan pada telur yang segar dan higienis, namun tetap harus diwaspadai oleh kelompok berisiko tinggi seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan imunitas tubuh yang rentan.

Memasak telur sampai seluruh bagian putih dan kuningnya matang penuh adalah cara paling aman agar terhindar dari bahaya bakteri.

Jadi, Mana yang Sebaiknya Dipilih?

Jika ditinjau dari profil gizinya secara umum, telur rebus setengah matang maupun yang dimasak matang penuh sejatinya memiliki nilai nutrisi yang hampir seimbang.

Namun, apabila memperhitungkan faktor keamanan pangan serta tingkat efisiensi penyerapan protein oleh tubuh, telur rebus matang sempurna jauh lebih direkomendasikan. Opsi ini menjadi pilihan paling bijak, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak, wanita hamil, lansia, serta mereka yang daya tahan tubuhnya sedang menurun.

Bagi individu dewasa yang sehat dan mendapatkan pasokan telur dari sumber yang higienis, mengonsumsi telur setengah matang pada dasarnya relatif aman. Kendati demikian, merebus telur hingga matang penuh tetaplah keputusan paling aman untuk memetik manfaat kesehatannya tanpa khawatir akan risiko kontaminasi.